Laman

Kamis, 31 Mei 2012

Sejarah Terbentuknya Desa-Desa di Padang Guci Kabupaten Kaur

PENDAHULUAN

 Padang Guci, sebuah kawasan di Kabupaten Kaur memiliki letak geografis yang sangat beraneka ragam. Karena letaknya tersebut daerah di Padang Guci terbagi menjadi enam bagian, yaitu: Daerah Hulu (Kecamatan Kaur Utara dan Kecamatan Padang Guci Hulu), Daerah Pantai (Kecamatan Tanjung Kemuning), Daerah Lembak (Kecamatan Padang Guci Hilir), Daerah Kelam ( Kecamatan Kelam Tengah) dan Daerah Kule ( Kecamatan Lungkang Kule) yang memiliki banyak desa-desa. Tapi sangat disayangkan masih banyak para pemuda-pemudi disana, belum terlalu mengetahui dan mengenal tentang sejarah terbentuknya desa mereka. Mereka hanya tahu nama desa, tapi tidak tahu makna/arti nama desanya. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya penjelasan dari orang tua ataupun informasi dari sekolah. Walaupun ada sedikit kesamaan, terkadang juga para orang tua memberikan informasi yang berbeda mengenai sejarah desa mereka.
Sejarah memiliki arti yang penting dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Dalam dunia pendidikan, Sejarah mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik.
Sebagai seorang pendidik sekaligus guru sejarah, hati saya terdorong untuk meluruskan cerita sejarah desa-desa di Padang Guci. Karena dari cerita-cerita yang saya dengar, setiap desa mempunyai sejarah dan kisah yang sangat menarik untuk diketahui, walaupun masih berbau mitos dan sulit dicerna kebenarannya. Dari informasi yang saya dapatkan ada persamaan dan sedikit perbedaan mengenai sejarah desanya. Hal inilah yang menjadi faktor pendorong utama saya untuk meluruskan kembali cerita sejarah desa-desa di Padang Guci. Yang nantinya akan dicari melalui penelitian, pengumpulan data dan lain-lain. Hasil penelitian itu akan dibuat menjadi sebuah buku Sejarah.
Pentingnya pembuatan buku sejarah ini, selain meluruskan cerita sejarah, juga menjadi petunjuk dan informasi bagi generasi selanjutnya. Nantinya buku ini dapat dijadikan sebagai mata pelajaran Muatan Lokal di Sekolah-Sekolah. Yang sangat berperan memberi pengetahuan kepada anak didik untuk lebih mengenal Sejarah  daerahnya.
Sebagai upaya dalam menyikapi rencana ini, maka kami merancang hal-hal yang akan dikaji dan diteliti dalam bentuk sebuah proposal pembuatan buku yang berjudul : SEJARAH TERBENTUKNYA DESA-DESA DI PADANG GUCI KABUPATEN KAUR.


     Tempat penelitian meliputi :
1.      Kecamatan Tanjung Kemuning                            =          21 Desa
2.      Kecamatan Kelam Tengah                                  =          13 Desa
3.      Kecamatan Kaur Utara                                       =          11 Desa
4.      Kecamatan Padang Guci Hulu                             =          11 Desa 
5.      Kecamatan Padang Guci Hilir                              =          10 Desa
6.      Kecamatan Lungkang Kule                                 =           9 Desa
Jumlah        =         75 Desa

di blog ini sengaja kami tampilkan 3 buah desa di setiap kecamatan sebagai sample.






A.      Kecamatan Tanjung Kemuning



TANJUNG KEMUNING
 “Sejarah Terbentunya Desa Tanjung Kemuning
Puyang yang pertama kali datang ke Desa Tanjung Kemuning ini bernama Puyang Siak Kembang Layang yang berasal dari Nanti Giri  Pasemah. Puyang ini merantau untuk mencari kehidupan yang baru. Dahulunya Desa Tanjung Kemuning hanya terdiri dari 7 buah rumah. Desa Tanjung Kemuning berasal berasal dari 3 Jungku (keluarga) yaitu:
v  Puyang Depati Agung (anak Puyang Siak Kembang Layang): yang mengatur pemerintahan.
v  Puyang Pemengkuh Pute: bagian keamanan
v  Puyang Tande Kuase: Tabib pengobatan
Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk maka mulai terpikirlah oleh mereka untuk membuat nama dusunnya, tahun 1873 berdirilah dusun Tanjung Kemuning dengan Kepala Dusun (Depati) bernama Kenamas. Tahun 1986 mukai dirubahlah nama dusun Tanjung Kemuning menjadi Desa Tanjung Kemuning dengan Kepala Desa yang pertama bernam Mahaludin Senekap.
Nama Tanjung Kemuning ini berasal dari nama tanjungan yang banyak di tumbuhi pohon kemuning. Dahulunya batang pohon kemuning banyak dibuat oleh para puyang sebagai gagang  senjata tajam, karena kualitasnya sangat bagus. Tetapi karena keserakahan manusia yang tidak bertanggung jawab lama kelamaan pohon kemuning  itu sekarang  sudah habis.
Seiring berjalan waktu dengan pertumbuhan penduduk dan banyak para pendatang lain, pada tahun 2009 setelahj terjadinya pemekaran Desa Tanjung Kemuning terbagi menjadi 3 Desa:
v  Desa Tanjung Kemuning I
v  Desa Tanjung Kemuning II
v  Desa Tanjung Kemuning III
Walaupun Desa ini sudah terpisah menjadi tiga desa, tetapi masyarakatnya masih saling membantu dalam segi apapun, hidup rukun dan damai. Karena bagi penduduk nama di pemerintahan saja yang berbeda. Mengenai hubungan silaturahmi antar penduduk Desa selalu tetap dijaga.

Peninggalan yaitu makam Puyang Siak Kembang Layang dan anak-anaknya.





TANJUNG AUR
 “Sejarah Terbentunya Desa Tanjung Aur
Nenek moyang Desa Tanjung Aur berasal dari Pasemah.  Nenek moyang (Puyang)  itu bernama:
v  Puyang Nenek Raje berasal Dusun Tengah (diatas tebing daerah Muara Padang Guci) Karena telah merasakan cocok dengan daerah ini, sebagai tempat usahanya. setelah sampai di Tanjung Aur Puyang Nenek Raje menetap di lorong Dalam (wilayah Tanjung Aur I). Untuk mengembangkan usaha perkebunannya maka dibuatlah perkebunan karet, yang sangat luas dan dihuni oleh penduduk, maka daerah ini dikenal dengan nama Padang Karet (wilayah Tanjung Aur II).
v  Puyang Gugu berasal dari Air Gegasan (sebelah timur Desa Tanjung Aur I) Beliau membentuk sebuah pemukiman yang bernama Tanjung Agung (wilayah Tanjung Aur I).
v  Puyang Riye Tabing berasal dari Bunge Tanjung (± 2 km di belakang Desa Padang Leban/dekat Muara Padang Guci) Setelah menetap di Tanjung Aur tidak lagi diketahui keberadaannya. Untuk mengenang Puyang Riye Tabing ada sebuah tapak peninggalnnya.
Dengan bertambahnya jumlah penduduk, terpikirlah bagi mereka untuk pindah ke tempat yang lebih luas. Dengan dibangunnya jalan yang dibuat pada masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1921 penduduk lorong Dalam, Tanjung Agung, dan Padang Karet bermusyawarah untuk menyatukan dan memindahkan dusunnya kedaerah yang dekat jalan.
Maka ketiga wilayah ini bersatu dan menamakan Desanya Tanjung Aur. Dinamakan Tanjung Aur karena di Tanjungan ada tumbuh rimbun batang aur yang selalu dijaga oleh penduduk (terletak di perbatasan Desa Tanjung Aur I dan Tanjung Aur II). Tanjung: daerah yang dikelilingi oleh air yang letaknya jauh/nanjung, Aur: bambu kecil.
Tahun berganti tahun, seiring berjalannya waktu dengan banyaknya jumlah penduduk, maka Desa Tanjung Aur dibagi lagi menjadi 2 Desa, yaitu:
v  Desa Tanjung Aur I
v  Desa Tanjung Aur II
Walaupun Desa ini sudah terpisah menjadi dua desa, tetapi masyarakatnya masih saling membantu dalam segi apapun, hidup rukun dan damai. Karena bagi penduduk nama di pemerintahan saja yang berbeda. Mengenai hubungan silaturahmi selalu tetap dijaga.

·         Diperbatasan antara Desa Tanjung Aur I dan Desa Tanjung Aur II masih hidup serumpun bambu yang menjadi asal nama Desa Tanjung Aur

 
Ø   Tapak Riye Tabing
 
Nara Sumber:
Bapak Majid. R
Ibuk Salijah




SELIKA
 “Sejarah Terbentunya Desa Selika
Dahulu Desa Selika masih hutan belantara. Penduduk masih bertempat tinggal di  perkebunan. Di daerah ini dulunya ada talang (kebun):
1.      Talang Derian (Selika 3)
2.      Talang Kemiling (Selika 2)
3.      Padang Bindu (Selika 1)
Rumah penduduk dahulunya masih terbuat dari kayu, lalang, dan papan.baju yang mereka pakai dalam sehari-hari adalah lantung (kulit kayu), kalau adaperayaan ataukeramaian baru mereka memakai baju kebaya.
Sewaktu Belanda mau membuat jalan di daerah ini, orang yang terpandang dan kaya bernama Puyang Rebantan, mendirikan sebuah gudang sebagai tempat menyimpan bahan-bahan kebutuhan pokok. Sehingga di wilayah ini dikenal dengan nama daerah Gudang.
Pada tahun 1960-an Karena jumlah penduduknya sedikit maka ketiga dusun ini bergabung untuk membentuk sebuah Desa yang mereka beri nama Desa Selika, dengan Kepala Desa Yang pertama bernama H. Somad. Dinamakan Selika karena aliran air sungai yang mengalir di Desa ini setelahmengalir lenyap dantidak diketahui lagi keberadaannya dan baru terlihat di dekiat laut. Sehingga penduduk berkata “alangkah Selih aik ini” (alangkah aneh air ini). Kemudian oleh penduduk dinamakanlah air Selika.
Seiring berjalannya waktu penduduk desa Selika  semakin bertambah banyak. Karena daerahnya yang luas dan penduduknya banyak maka Desa Selika membagi Desanya menjadi 3 Desa:
v  Desa Selika I
v  Desa Selika II
v  Desa Selika III
Walaupun nama di pemerintahan sudah terbagi menjadi 3 Desa,namun ketiga penduduknya saling membantu setiap ada keperluan. Hal ini karena mereka telah menjalin tali kekeluargaan yang hidup rukun dan damai.

Peninggalan sejarah yang ada di Desa ini adalah:
1.      Pemandian air Selika: yang pernah dikunjungi Gubernur Bengkulu Bapak Hazairin.
2.      Makam Rage gucik: makam ini terletak di hulu sungai air Selika.
Dikisahkan bahwa Puyang Rage gucik mempunyai seorang adik yang sangat cantik jelita ibarat bidadri. Tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya. Sehingga untuk memuji kecantikannya Rage Gucik selalu menghina adiknya.
3.      Piring Nelsiu: memiliki keanehan, apabila diisi dengan air maka piring ini akan penuh dengan lumut.

Nara Sumber: Hj. Saleha



 B.    Kecamatan Padang Guci Hulu 




DESA NAGA RANTAI
“Sejarah Terbentunya Desa Naga Rantai”
Sejarah terbentuknya Desa Naga Rantai diawali dengan kedatangan penduduk Kinal ke Desa ini yang mencari daerah untuk tempat hidup yang baru, penduduk Kinal yang pertama kali dating ke Naga Rantai yaitu Puyang Raje Alam dan Puyang Depati Awahan.
 Nage Rantai pada awalnya masih berbentuk hutan serta jalannya masih jalan setapak. Karena penduduk Kinal menginginkan keramaian maka tempat ini mereka namakan Suke Rami, dengan maksud dan tujuan agar daerah ini menjadi rami dan banyak penduduknya.
Setelah beberapa tahun menempati desa ini, terdapatlah kisah dan kejadian yang menarik dan aneh yang terjadi, yaitu seorang Bapak tua melihat seekor naga berkalung rantai di lubang naga yang terletak dipinggiran Air Kule. Untuk meihat lubang naga tersebut hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya. Walaupun kejadian ini aneh dan dan hanya cerita yang tidak bisa diterima oleh logika,  namun penduduk setempat tetap  yakin dan percaya bahwa cerita ini memang betul terjadi. menurut cerita dari nara sumber orang yang melihat naga tersebut adalah orang tua dari Saptudin. Beliau adalah penduduk asli Naga Rantai.
Karena kejadian inilah, para penduduk Suke Rami bersepakat untuk merubah nama desanya menjadi  desa Nage Rantai. Tetapi karena pemerintah agak sedikit canggung mendengar nama Nage Rantai, maka diubahlah menjadi Naga Rantai.
Peninggalan masa lampau yang masih ada di Naga Rantai adalah:
Ø  Batu empat
Batu empat: yang dipercaya masyarakat disini sebagai peninggalan masa lampau
 
Nara Sumber: Bapak Amal Sani




 DESA COKO BETUNG
“Sejarah Terbentuknya Desa Coko Betung“
Sejarah Desa coko Betung diawali dengan kedatangan Puyang (nenek moyang) yang bernama Kadam Alim yang berasal dari Kota Agung Lahat, kemudian singgah ke Desa Manau IX (Sembilan). Dari Manau IX (Sembilan) berpindah ke dusun Tanjung Limun, disebut Tanjung Limun karena dari jauh dusun ini kelihatan setelah didekati/didatangi tidak ditemukan. Dulunya dusun Tanjung LImun hanya terdiri dari 7 buah rumahi letaknya di pinggir badas tanjungan (jurang) yang dibawahnya mengalir air padang.
Pada zaman tumpuan (perampokan) para penduduk sepakat untuk melindungi Desanya dengan cara mengkute (memagari) Desanya dengan betung (bambu besar). Yang jalan masuk dan keluarnya hanya diketahui oleh penduduk setempat.
Tanjung Limun daerahnya tinggi sekitar 20 meter dari landasan Air Padang. Tempat ini kalau dilihat dari jauh berbentuk bukit, tetapi tanahnya datar yang dipagari oleh tanaman betung yang sengaja ditanam untuk melindungi Desa dari rampok/maling. Oleh sebab inilah penduduk setempat mengganti nama Desanya dari Tanjung Limun menjadi Coko Betung.
Dengan seiring berjalannya waktu penduduk Desa Coko Betung pun semakin banyak sehinga mereka berpindah lagi ke tempat yang ditinggali sekarang. Yang menjadi alasan utama pindah ke daerah yang dekat dengan jalan adalah untuk memajukan Desa dan kelancaran transportasi. Nama Coko Betung dibawa menjadi nama tempat yang baru itu.
Setelah perpindahan tempat tersebut datanglah keturunan dari penduduk Kinal sebelah Air Gambiran yang menghuni Dusun Kabu Tinggi. Dinamakan Kabu Tinggi karena terdapat pohon kabu yang tinggi di tempat itu. Sehingga sebagian dari penduduk menyebutnya desa Kabu Tinggi. Tetapi sampai sekarang nama desa di pemerintahan masih tetap Coko Betung.
Peninggalan sejarah Desa Coko Betung berupa makam puyang yang berada diseberang Air Padang dengan menempuh perjalanan kaki selama ± 15 menit. Sampai sekarang masyarakat Desa Coko Betung ini hidupnya selalu rukun dan saling membantu bila ada permasalahan.

Makam Enggangru
  
  Dikisahkan Sebelum meninggal Puyang Enggangru beramanat kepada keluarganya dia akan meninggal jam 11, kemudian dumakamkan. Anehnya penduduk Desa Gunung Kaya (Kec. Padang Guci Hilir) tidak mempercayainya karena melihat dia sedang bercukur rambut, dan juga penduduk Pagar Alam Pasemah juga tidak percaya karena pada hari meninggalnya terlihatlah dia sedang ngopi dan jaket yang dipakai enggangru masih tertinggal. 

Nara Sumber: Bapak Batarudin







 DESA MANAU IX
 “Sejarah Terbentuknya Desa Manau IX”
Desa manau IX adalah kelompok masyarakat adat yang tumbuh dan berkembang dari besemah berasal dari daerah Kecamatan Kota Agung Kabupaten Lahat yang konon dikisahkan bahwa mereka berasal dari Desa Bangke, anak keturunan “Mengkedum Sakti“.
Salah seorang anak dari Mengkedum Sakti yang bernama Pangeran sebelum merantau diamanatkan untuk mencari 9 batang rotan yang hidup serumpun dan letaknya diatas pohon beringin. Setelah diamanatkan kemudian berangkatlah puyang Pangeran dan ditemukannya 9 batang rotan. Yang menariknya bahwa dalam satu rumpun hanya ada I batang, anehnya di sini ada 9 batang dalam serumpun. Disanalah puyang Pangeran bermukim dan menamakan daerahnya Manau IX.
Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk maka terpikirlah oleh mereka untuk memajukan desanya. Demi kemajuan dan kelancaran transportasi dicarilah daerah yang dekat dengan jalan. Setelah ditemukan kemudian berpindahlah para penduduk ke daerah Talang Ganyul dinamakan Talang Ganyul karena di wilayah ini banyak tanaman Ganyul (pohon yang berbuah yang dapat dijadikan makanan pokok pengganti nasi). Sebahagian penduduk dahulunya masih menyebut daerah ini dusun Talang Ganyul.  Walaupun  di Pemerintahan masih bernama Desa Manau IX. Setelah terjadinya pemekaran dengan berdirinya Kabupaten Kaur masyarakat desa lebih mengenal daerah ini dengan nama Desa Manau IX.
Pada tanggal 13 maret 2005 manau IX terpecah menjadi dua desa yaitu Desa Manau IX.I dan Desa Manau IX.II. Desa Manau IX.I dan Desa Manau IX.II adalah desa definitive yang terletak di Kecamatan Padang Guci Hulu.
Peninggalan sejarah yang masih ada di seberang Air Padang (Desa Manau IX lama):
Ø  Khalwat: tempat bersemedinya H. Abdul Manan dalam meminta petunjuk dari Allah SWT dalam menyelesaikan suatu masalah.
Mengenai tokoh puyang yang diceritakan sekilas oleh Nara Sumber yang masih menjadi sejarah lisan adalah:
·         Puyang Pangeran, sabar dan pintar dalam menyelesaikan suatu masalah.
·         Puyang Kadam Alim, adiknya Puyang Pangeran yang kebal senjata
·         Puyang Macan Lawangan, sebagai ajudan atau kaki tangan Puyang Pangeran
·         Puyang Macan Guntingan, sebagai ajudan atau kaki tangan Puyang Pangeran

Juga diceritakan sekilas tentang tokoh penyebar agama Islam di Desa Manau IX yaitu:
1.      Haji Abdul Manan
2.      Haji Saleh
Makam Puyang Pangeran
  

Haji Abdul Manan Yang memakai Sorban



Goa khalwat: tempat Haji Abdul Manan bersemedi, berzikir, meminta petunjuk kepada Allah SWT

Peninggalan Haji Abdul Manan berupa cap dan kotak yang beliau dapat dari Mekkah, tampak tanda cap bertulisan arab

Nara Sumber: Bapak Dul Samat bin H. Abdul Manan dan Bapak Amat Sari Bin H. Saleh







C.      Kecamatan Kaur Utara  





KELURAHAN SIMPANG TIGA
 “Sejarah Terbentuknya Kelurahan Simpang Tiga”
Puyang yang pertama kali datang dan menetap di daerah Simpang Tiga bernama Puyang Rangge. Puyang Rangge berasal dari Pulau Panggung, karena daerahnya kecil dia mencari lahan perkebunan yang baru. Kemudian ditemukanlah daerah di Simpang Tiga ini, daerahnya datar dan bagus untuk perkebunan. Setelah itu menetap dan bermukimlah Puyang Rangge dan keluarganya ditempat ini. Kemudian daerah ini mereka namakan Dusun Nede Agung. Nede: permintaan, Agung: besar. Jadi Nede Agung berarti permohonan/permintaan semoga di kemudian hari Dusun ini menjadi maju/besar.  Jalan telah ada sebelum berdirinya dusun ini, pemerintahan Belanda masih berpusat di Simpang Tiga yang dipimpin Under Afdiling (Tuan Kontrolir) yang bernama JB. Iken.
Pda tahun 1925 Dusun Nede Agung menyatu dengan daerah Simpang Tiga setelah bermufakat maka diputuskanlah nama Desa Simpang Tiga. Penduduk asli Desa Simpang Tiga kebanyakan berasal dari Pulau Panggung, Kinal, dan Tanjung Raye. Seiring berjalannya waktu datanglah penduduk yang berasal dari daerah lain: dari Padang, Jawa dan lain-lain.
Pekan (pasar tradisional) dahulunya telah ada dibuat pada zaman Belanda yang terletak di dekat tugu, pekan ini berguna  untuk tempat transaksi jual beli semua kebutuhan penduduk. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka pekan itu dipindahkan ke sebelah selatan Desa, sehingga sekarang daerah ini lebih dikenal oleh penduduk dengan nama daerah Pekan Baru dan daerah lokasi  pasar sebelumnya dinamakan Pekan Lama.
Sebelum menjadi Kelurahan daerah ini bernama Desa Simpang Tiga. Dinamakan Simpang Tiga karena jalan didaerah ini mempunyai tiga jalur, yaitu:
v  ke Kinal
v  ke Bengkulu Selatan (manna)
v  Ke Padang Guci Hilir (Lembak)
Wilayah Kaur Utara (Padang Guci dan Sekitarnya) dahulunya masih termasuk bagian dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Oleh Pemerintah Bengkulu Selatan Desa Ibu Kota Kecamatan dijadikan Kelurahan dengan masa percobaan 1 tahun. Karena itulah pada tahun 1996 Desa Simpang Tiga berubah menjadi Kelurahan Simpang Tiga yang dipimpin oleh Lurah yang Pertama bernama Drs. Taufik Gumay yang berasal dari Pagar Alam Pasemah. Setelah berdirinya Kelurahan maka dibentuklah RT (Rukun Tetangga) sebanyak 3 RT. Setelah penduduknya semakin bertambah, maka dibagi lagi menjadi 7 RT.
Dahulunya Desa-Desa di wilayah Padang Guci masih berpusat di satu Kecamatan yaitu: Kecamatan Kaur Utara. Kecamatan ini terletak di Kantor Koramil atau sekarang Kantor Polsek, Setelah berdirinya Kabupaten Kaur, maka Kecamatan Kaur Utara dibagi menjadi 6 Kecamatan:
v  Kecamatan Tanjung Kemuning
v  Kecamatan Kelam Tengah
v  Kecamatan Padang Guci Hulu
v  Kecanmatan Padang Guci Hilir
v  Kecamatan Lungkang Kule
Walaupun di Kelurahan ini banyak terdiri dari berbagai macam suku dan ras, namun penduduknya telah bersatu dalam kekeluargaan, sehingga setiap masalah yang datang dapat diatasi secara cepat dan lancar.
 Nara Sumber: Bapak Muchsin


















DESA PADANG MANIS
“Sejarah Terbentuknya Desa Padang Manis”
Nenek moyang Desa Padang Manis bernama:
v  Mas Kance Diwe
v  Raje Tangkas
v  Tembiung Kering
Mereka bertiga berasal dari daerah Rabu Samad (Lubuk Buntak) Pasemah. Sebelum menetap di Padang Manis mereka berpindah-pindah tempat:
v  Dari Tanjung Ganti
v  Tanjung Keling (Padang Manis Hilir)
v  Dusun Gelombang/Muare Due  (Sebelah timur Tanjung Keling)
Dinamakan Muere Due karena ada aliran air besar dan aliran air kecil bertemu membentuk muara.
Puyang dahulunya bermata pencarian yaitu menggembalakan kerbau milik penduduk Tanjung Ganti yang nanti setelah berkembang-biak hasil keturunannya akan dibagi. Untuk tempat mengembala kerbau dicarilah padang rumput yang luas yang terletak di Tanjung Keling (Padang Manis Hilir). Dalam mengembalakan kerbau ada kisah menariknya yaitu “kerbau tidak mau lagi pulang ke Tanjung Ganti”, sudah berbagai cara dilakukan, namun kerbau-kerbau itu tidak mau ditarik pulang. Karena kejadian ini Puyang Mas Kance Diwe berkata dengan penduduk Tanjung Ganti: “Padang rumput disini manis sebab itulah kerbau tidak mau pulang”. Setelah bermufakat dengan penduduk Tanjung Ganti akhirnya disepakatilah kerbau-kerbau itu dijaga dan dipelihara oleh ketiga puyang ini dan membaginya bila sudah berkembang biak.
Puyang Mas Kance Diwe, Puyang Raje Tangkas, Puyang Tembiung Kering dan keluarganya kemudian sepakat untuk bermukim didaerah ini. Karena kejadian itulah mereka menamakan dusunnya Padang Manis.
Setelah tahun berganti dengan bertambahnya jumlah penduduk, dan pemekaran daerah maka dirubahlah nama Dusun Padang Manis menjadi Desa Padang Manis.  


Peninggalan-peninggalan yang masih ada:
v Tebat Ketapang: dibangun oleh Haji Ali yang dijuluki Tuan Sekh
Tebat ini airnya tidak pernah kering sepanjang kemarau, disinilah penduduk dahulu mengambil air untuk kehidupan.
v Keris dan batu penolak balak, pengaman diri.

v Makam keramat Puyang Mas Kance Diwe, Puyang Raje Tangkas dan amak-anaknya

v Kades Padang Manis (Ibuk Irliti Culin) dan Bapak Uki menunjukan lokasi makam puyang Padang Manis 
Nara Sumber: Bapak Uki





DESA BANDU AGUNG
 “Sejarah Terbentuknya Desa Bandu Agung”
Sejarah terbentuknya Desa Bandu Agung bermula dengan kedatangan Puyang Depati Perapat yang berasal dari Kota Agung (Pasemah) yang datang ke Tangge Manik (lembak Cuko Enau). Puyang Depati Perapat  mempunyai 3 orang anak yang bernama:
v  Satarudin, yang hijrah ke Bandu Agung
v  Singe Carang, yang hijrah ke Gunung Agung
v  Depati Caye Rurah, yang hijrah ke Bendar Agung (daerah Tinggi Ari, kecamatan Tj. Kemuning).
Dahulunya keadaan alam di Desa ini masih berupa hutan belantara. Tetapi Setelah kedatangan Puyang Satarudin maka hutan belantara itu mulai dirimbas untuk dijadikan pemukiman tempat tinggal. dimasa inilah ada sebuah peti emas yang disimpan oleh Puyang Satarudin. Tetapi setelah beliau wafat peti emas itu hilang secara gaib. Walaupun terkadang ada yang melihatnya, tetapi dilindungi oleh sesuatu yang aneh, misalnya ular besar atau seorang gadis. Tetapi setelah didatangi secara bersama benda ini tidak terlihatlagi dan tidak diketahui keberadaannya.

Puyang Satarudin ini mempunyai 3 anak yang bernama:
v  Mance Ude
v  Anak Dalam
v  Saurah
Dengan berjalannya waktu keadaan penduduk mulai bertambah banyak, maka terniatlah bagi mereka untuk menamakan tempat tinggalnya. Karena  dahulunya ada sebuah peti emas yang disimpan oleh Puyang Satarudin. Tetapi setelah beliau wafat peti emas itu hilang secara gaib. Walaupun terkadang ada yang melihatnya, tetapi dilindungi oleh sesuatu yang aneh, misalnya ular besar atau seorang gadis. Namun setelah didatangi penduduk benda ini tidak terlihat lagi dan tidak diketahui keberadaannya.
Untuk mengenang kejadian ini semua penduduk sepakat untuk menamakan dusunnya Bandu Agung. Bandu: benda, Agung: Besar yang bermakna memuji benda itu. Dengan berdirinya Dusun Bandu Agung, maka diangkatlah Depati (kepala Dusun) pertama yang bernama Resakim. Setelah mengalami pergantian Depati untuk masa perubahan menjadi Desa, diangkatlah sebagai Kepala Desa pertama yang bernama Bapak Yasudin.


 Makam Puyang di Bandu Agung Puyang Mance Ude, Anak Dalam, Saurah


Nara Sumber: Bapak Muhamad Taris



D.      Kecamatan Kelam Tengah


DESA SUKARAMI
 “Sejarah Terbentuknya Desa Sukarami”
            Pada awalnya keadaan Desa Sukarami adalah hutan balantara. Yang pertama kali bermukim di Dusun ini adalah Raden Kelingi yang berasal dari Talang Tinggi (letaknya dibelakang Desa Talang Tais). Kemudian berdatanganlah penduduk dari beberapa tempat
Lima  jungku yang datang di Desa ini adalah:
Ø  Galang Tinggi       : letaknya dibelakang Kemang Bandung, tokohnya Raden Kelingi
Ø  Pama Lebar          : letaknya dibelakang Desa Rigangan 3, tokohnya bernama Mesamad
Ø  Tanjung  Raye      : letaknya dibelakang Desa Rigangan 2, tokohnya bernama Singgur
Ø  Kemang Bandung  : letaknya di seberang Air Kelam, tokohnya bernama Siadan
Ø  Darat Sawah      : letaknya dibelakang Desa Darat Sawah, tokohnya bernama Kenigum
Setelah kelima jungku ini hidup berdampingan, maka terpikirlah untuk membuat nama Desanya. Akhirnya melalui musyawarah mereka bermufakat untuk memberi nama Desa Sukarami. Sukarami berarti menginginkan daerahnya untuk rami penduduknya.
Ada kisah menarik tentang usulan Belanda untuk merubah nama Dusun Sukarami. Orang Belanda mengusulkan kepada Raden Kelingi: “ Tuan gimana kalau nama Sukarami kita ganti aja dengan nama Fajar Bulan, karena bila hari sudah senja bulan akan terlihat jelas dari bukit Latas “(terletak di kecamatan Kelam Tengah). Usulan Belanda itu ditanggapi dengan halus oleh Raden Kelingi dan Berkata: “ Terimakasih Tuan atas usulannya, tetapi karena dusun kami ini baru berdiri maka kami semua telah sepakat untuk menamakan dusun kami ini dusun Sukarami,” kemudian Tuan Belanda senyum sambil menganguk setuju.
Setelah pergantian tahun penduduk Sukarami bertambah banyakuntuk itu lalu penduduk sepakat untuk membagi lagi desanya, agar penduduknya laebih bisas diperhatikan, maka Sukarami terbagi menjadi 2 yaitu: Sukarami I dan Sukarami II. Walaupun sudah terpisah namun penduduknya masih saling membantu satu sama lain, hidupnya rukun dan damai.


Nara Sumber: Bapak Abdul Qafar 





DESA
RIGANGAN
 “Sejarah Terbentuknya Desa Rigangan
Nenek moyang Desa Rigangan berasal dari Tebat Ipuh yang terletak dibelakang Desa Rigangan 3 (±2km). Dulunya di Desa Rigangan hanya terdapat 7 buah rumah, keadaan Desanya masih hutan belantara. Mata pencarian penduduk dahulunya adalah bertani dan berkebun. Di Desa Rigangan ini terdapatlah 7 jungku Keturunan). 7 jungku inilah yang membangun dan mengembangkan Dusun ini menjadi sebuah Desa.
 7 jungku ini terdiri:
1.      Puyang Saheh
2.      Senegun
3.      Tanjung Raye
4.      Ruasim
5.      Karang Tanjul
6.      Gajah
7.      Riye Carang (Semudi)
Rigangan berasal dari kata “inggangan” yang artinya masih ragu antara mau menetap atau pindah. Keraguan ini disebabkan karena belum tegaknya hukum disini, siapa yang kuat dia yang berkuasa. Tetapi setelah ditangani oleh Puyang Semudi (Riye Carang) yang tampil untuk mengamankan warga. Kerja keras dan usahanya ini membuat penduduk Rigangan  menjadi aman dan sepakat untuk menetap dan bermukim di dusun ini. Karena telah banyaknya penduduk yang menetap maka nama Dusun Inggangan dirubah menjadi Desa Rigangan (yang berarti sudah mantap menetap). Untuk menghargai peran dan usahanya itu diangkatlah Semudi oleh  Belanda menjadi Depati yang  bergelar Depati Riye Carang. Setelah Depati Riye Carang wafat perannya digantikan anaknya yang bernama Kerintan.
Tentang penggantian Depati disini ada kisah menariknya yaitu: Dalam rencana pengangkatan Kerintan menjadi Depati pihak Belanda tidak menyetujui. Hal ini karena Kerintan diwaktu itu mengalami sakit hidung dan Belanda berkata “kami tidak setuju kalau Kerintan yang menjadi Depati karena hidungnya buruk” akhirnya setelah diusulkan dan diputuskan oleh pihak Belanda yang menjadi Depati adalah M. Thaib (adik kandung Kerintan). Di zaman inilah Rigangan menjadi lebih makmur dan lebih berkembang. Bahkan diangkat menjadi Depati Mangku (wakil Pasirah).
Diceritakan sekilas tentang penyebaran agama Islam yang diprakarsai oleh KH. Ma’aruf yang berasal dari Palembang. Dengan berlandaskan Islam Desa rigangan menjadi lebih dikenal dan lebih maju. Pada tahun 1927 berdirilah organisasi Muhammadiyah Kelam Tengah di Desa Rigangan.
Setelah pergantian tahun jumlah penduduk Desa Rigangan menjadi sangat banyak, hal ini dikarenakan letak wilayahnya yang luas. Untuk mengatasinya, maka pada tahun 1970 di zaman Pasirah Haji Abdullah penduduk Rigangan bermufakat untuk membagi Desanya menjadi 3 Desa yaitu:
Ø  Rigangan I
Ø  Rigangan II
Ø  Rigangan III
Walaupun dipemerintahan Desa rigangan terbagi menjadi 3 Desa namun para penduduknya masih hidup berdampingan dan saling membantu dalam setiap kepentingan. Masih menjalin hubungan silaturahmi dan kekeluargaan.



Peninggalan bersejarah yang masih ada:
 Mesjid Al-Makmur yang didirikan pada tahun 1902
Mesjid ini adalah Mesjid yang pertama berdiri di Desa Rigangan.

 Mesjid Jamik Syaifa Ali Tasip, yang didirikan pada tahun 1991
Sebagian dari puyang Rigangan dimakamkan di samping Mesjid ini. peresmian Mesjid ini di hadiri dan diresmikan oleh Presiden Soeharto.

 
Nara Sumber: Bapak Abul Kohar
 
Nara Sumber: Bapak Harsono




DESA TANJUNG GANTI
 “Sejarah Terbentuknya Desa Tanjung Ganti
Desa Tanjung Ganti dulunya masih pemukiman berbentuk hutan belantara. Mata pencarian penduduknya adalah sebagai petani sawah. Sebelah timur Desa adalah sungai Air Kelam dan sebelah baratnya pamah (rawa). Karena itulah desa ini dinamakan tanjungan, sebab daerahnya dikelilingi oleh air.
Nenek moyang Desa Tanjung Ganti bernama Puyang Saurah. Dia mempumnyai anak laki-laki yang bernama Sadim. Puyang Sadim menikah dengan orang Mentiring (Kaur Selatan) yang bernama Seganti.
Sadim dan Seganti ini mempunyai 3 orang anak:
v  Ansor (Palak Lalas)
v  Regan (Juadi)
v  Tembaku (Kenadi)
Dimasa pimpinan Puyang Sadim yang didampingi istrinya Seganti, Desa Tanjung Ganti menjadi aman dan keadaan penduduknya semakin makmur dan tentram. Hal ini dikarenakan Puyang Sadim dan Seganti adalah orang yang sakti dan suka membantu masyarakatnya. Karena itu semua penduduk menyeganinya.
Untuk menghormati Puyang Seganti maka para penduduk sepakat untuk menamakan daerahnya Dusun Seganti. Dimasa  ini diangkatlah seorang Depati (kepala Dusun) pertama yang bernama Depati Kuntar. Tahun 1919 di masa penjajahan Belanda, dibuatlah jalan yang agak besar namun masih berbentuk tanah belum diaspal.
Setelah tahun berganti jumlah penduduk semakin banyak, nama Seganti mulai kurang enak didengar, kemudian diperbaiki dan diganti dengan nama Dusun Tanjung Ganti. (Tanjungan: Karena letak Desa yang yang menanjung  dan Ganti nama pendek dari Seganti).
Setelah pemekaran barulah nama Dusun Tanjung Ganti berubah menjadi Desa Tanjung Ganti. Untuk mengatasi semakin banyaknya jumlah penduduk maka para tokoh masyarakat dan penduduknya sepakat untuk membagi Desanya menjadi 2 Desa yaitu: Tanjung Ganti I dan Desa Tanjung Ganti II.

 Foto Depati Pertama Desa Tanjung Ganti: Depati Kuntar (Alm)

    Peninggalan bersejarah: SD yang dulunya bernama Sekolah Rakyat. Yang sekarang telah dirubah menjadi SD 01 Kelam Tengah. Tempat orang dahulu bersekolah bahkan dari mereka berasal dari kecamatan Lungkang Kule, untuk pergi sekolah mereka berjalan kaki untuk pergi ke sekolah. Tanah lokasi SD ini adalah sumbangan dari Bapak Ramin.
 
Nara Sumber: Haji  Hasnul Kabri



 E.      Kecamatan Padang Guci Hilir


Desa Air Kering
 Sejarah Terbentuknya Desa Air Kering
            Dulunya penduduk Air Kering bermukim di dusun Tanjung Dalam yang terletak di tanjungan air padang. Pemukiman penduduk hanya berisi 9 rumah. Mengenai tokoh kepuyangan yang diceritakan nara sumber adalah Puyang Raden Caye Kompeni yang mempunyai anak:
v  Puyang Pangeran Raje Setie
v  Puyang Kenti Raje
v  Puyang Raje Mude
Dusun ini berasal dari 4 marga tertua, 4 marga tertua itu:
v  Lubuk Sirih
v  Padang Guci
v  Kinal
v  Talo
Nenek moyang desa ini berasal dari besemah yang datangnya bersamaan dengan nenek moyang Pulau Panggung. Lokasi desa Air Kering pada dulunya adalah di sungai yang sekarang ini memiliki fungsi banyak bagi masyarakakat. Desa yang dihuni oleh masyarakat dulunya adalah jalannya air Padang. Karena adanya peralihan air sungai yang disebabkan putusnya pematang Dahan Langit dan pematang Sungai yang menuju ke dusun Tanjung Dalam yang mereka mukimi. “Dikisahkan penyebab putus dan pecahnya pematang air ini dikarenakan 2 ekor naga yang berkelahi”
Penduduk dusun Tanjung Dalam bersepakat untuk pindah ke tempat aliran sungai yang telah kering. Karena kejadian inilah penduduk dusun bersepakat untuk menamakan Desanya Air Kering. Air Kering berarti Desa yang dibangun ditempat jalur air yang telah kering.
            Tiga nenek moyang yang membanhun Desa Air Kering ialah :
v  Pangeran Munakad
v  Pangeran Anjad
v  Pangeran Kademan
Peninggalan-peninggalan bersejarah yang masih ada tetapi dipegang oleh orang-orang tertentu melalui warisan yaitu:
v  Keris Melile Buntu
v  Keris Kara Kancing
v  Keris Kelipak Betung
v  Karau begelar Pedang Berias
v  Karau Sebarau Lapar
v  Siwar Rilak Seribu
 
Katerangan: Mengenai foto-fotonya belum bisa kami abadikan dikarenakan dipegang secar pribadi yang diwariskan melalui turun temurun.

 
Nara Sumber Air Kering: Bapak Inseri





Desa Talang Jawi
 Sejarah Terbentuknya Desa Talang Jawi
Penduduk Talang Jawi berasal dari daerah Napal Melintang (Talo), mengenai tokoh puyang bernama Riye Kemisir.
Penduduk Talang Jawi dulunya tinggal di darat sawah (sekarang dinamakan Hamparan Pama Jawi). Penduduk berpindah ke tempat sekarang kerena ingin mendekati jalan, agar mudah berhubungan dan lancarnya transportasi dengan penduduk Desa lain  Dahulunya Desa ini dijadikan tempat berkebun oleh penduduk Darat Sawah, pohon-pohon kelapa banyak tumbuh didaerah ini. Dulunya ditengah- talang ada tumbuh pohon besar yaitu pohon jawi.
Semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka terpikirlah oleh mereka untuk membuat nama Desanya. Karena tertarik dengan pohon jawi maka penduduknya bermufakat untuk menamakan Desanya dengan nama Desa Talang Jawi.
Nama-nama tokoh Puyang yang memberi nama Desa Talang Jawi:
v  Puyang Resadun
v  Puyang Nanton
v  Puyang Kenggalan
v  Puyang Rekamat
Karena jumlah penduduk yang semakin rami terpikirlah untuk membagi desa. Setelah pemekaran akhirnya keinginan warga ini terwujud dengan dibaginya Desa Talang Jawi menjadi 2 Desa yaitu Desa Talang Jawi I dan Desa Talang Jawi II.
Nara Sumber: Bapak Sulberi





F.   Kecamatan Lungkang Kule






 DESA  SENAK
“Sejarah Terbentunya Desa Senak”
Pada zaman dahulu di desa Senak jalannya masih jalan setapak dan rumah penduduk masih berjarak-jarak, karena dibatasi oleh talang-talang (perkebunan) yang dbuat oleh penduduk. Menurut cerita nenek moyang desa Senak berasal dari  Jembatan Akar Lahat.
Asal mula nama Senak yang petama adalah Tanjung Bunian. Penduduknya berasal dari Lubuk Betung Kinal, berangkat membuat kebun mengarah dekat air. Dulunya dinamakan Tanjung Bunian Karena airnya berkelok-kelok (tanjungan) menyenak/bunian (yang menggenang dan berbentuk lubuk) yang dalam tapi airnya tenang. Akhirnya dinamakan Senak. Senak di ceritakan merupakan desa yang paling tua di kecamatan Lungkang Kule. Dikatakan paling tua, karena desa ini sudah ada sejak dulunya dan memang dibangun di desa ini tidak mengalami perpindah seperti desa lainnya.
Didesa ini dulunya terdapat beberapa talang diantaranya :
1.      Talang Keghinjing (Pohon kayu besar yang berbuah).
2.      Talang Kayu Hitam, (pohon kayu besar dan berwarna hitam) yang terdapat di desa Suka Nanti.
Adapun peninggalan-peninggalan sejarah di desa ini yaitu:
Ø  Terdapat 6 buah batu yang disebut Balai, yang terletak di atas Air Kule. Menurut ceritanya batu tersebut pernah di angkat, di bawah batu tersebut terdapat sebuah pedang sepanjang 1 M. tetapi sayangnya peninggalan ini sudah dijual dan tidak diketahui lagi keberadaannya.

Foto Nara Sumber:
Umar Baki
Madtasin






DESA TANJUNG BUNIAN
“Sejarah Terbentunya Desa Tanjung Bunian”
Bahwa dulunya desa ini masih berpenduduk dan bermukim di Air Bunian, Penduduknya berasal dari Lubuk Betung Kinal, berangkat membuat kebun mengarah dekat air. Dulunya dinamakan Tanjung Bunian Karena airnya berkelok-kelok (tanjungan) menyenak/bunian (yang menggenang dan berbentuk lubuk) yang dalam tapi airnya tenang. Sehingga dinamakan Tanjung Bunian, setelah air bunian naik dan mengalami kebanjiran yang airnya menyenak (membentuk lubuk yang dalam tetapi airnya tenang) maka diubahlah nama dusun menjadi dusun Senak.
Mengenai cerita berpindahnya nama ke Tanjung Bunian lagi, disini ada kisah yang menarik. Tuan Setamun yang dianggap tokoh masyarakat dan orang  yang paling di tuakan di dusun ini pernah mandi dengan Orang Belanda ke Air Bunian. Karena airnya bersih dan dingin lalu orang Belanda berkata: “Tuan Setamun, apa nama air tempat kita mandi ini? Tuan Setamun menjawab: “Air Bunian”. Lalu sepulangnya dari air tersebut Tuan Belanda memberi saran “kita ganti saja nama desa ini menjadi Tanjung Bunian”. Usulan Tuan Belanda ini mendapatkan respon positif dari Tuan Setamun, dan keesokan harinya di musyawarahkan dan semua penduduk setuju, sehingga nama desa di rubah lagi dari Senak menjadi Tanjung Bunian.
Mengenai peninggalan sejarah dahulu diceritakan ada sebuah piring yang bergambar naga, tepatnya terletak di tengah piring itu. anehnya bila piring itu di isi air seakan-akan naga itu hidup. Tapi sayangnya peninggalan yang bersejarah itu sudah dijual pada zaman Belanda dan tidak di ketahui lagi keberadaannya.
Tanjungan (tempat lalu air yang berbelok-belok), karena banyaknya tanjungan ini maka dinamakan tempat ini Tanjung Bunian.



Nara Sumber:
             Bapak Madrus

                   Bapak Rasid








DESA SUKANANTI DAN DESA AUR GADING
 “Sejarah Terbentunya Desa Sukananti dan Desa Aur Gading”
Pada zaman marga sekitar tahun 1938 Desa ini dipimpin oleh Pasirah (Kepala marga). Pada saat itu penduduknya masih sangat sedikit, jalan yang ada hanya jalan setapak. Sekitar tahun 1960 dibentuklah Desa Talang Kayu Hitam yang dipimpin oleh seorang Depati (Kepala Desa) yang bernama Bapak Senar. Nama desa Talang Kayu Hitam diambil dari nama pohon Seluai Tanduk yang ada di desa ini.
Setelah habis masa jabatannya Bapak Senar digantikan oleh Bapak Ahmad Asim yang dulunya dikenal dengan nama Buyung Belalang yang diangkat sebagai Depati ke dua (2). Dimasa inilah desa Talang Kayu Hitam berganti nama Desa Sukananti, yang berarti siap menunggu kedatangan masyarakat dari daerah manapun untuk bermukim di desa ini. Setelah desa Sukananti dibentuk, penduduknya pun semakin bertambah banyak. Mayoritas pekerjaan mereka adalah petani Kopi, Cengkeh, dan Lada.
Semakin bertambahnya jumlah penduduk yang menghuni desa ini semakin  menyulitkan masyarakatnya untuk berkumpul dalam suatu musyawarah atau hal penting lainnya. Letak luas wilayah desa ini sangat panjang, demi untuk mempermudah mengadakan pertemuan dan mengurus desanya, maka Depati (kepala Desa) Sukananti yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Ahmad Asim dan tokoh masyarakat setempat mengusulkan kepada Pasirah (Kepala Marga) dan Camat Kaur Tengah (sekarang menjadi Kecamatan Lungkang Kule) untuk membentuk desa baru yang diberi nama Sinar Bulan. Setelah itu desa Sukananti terbagi menjadi dua desa yaitu: Desa Sukananti dan Desa Sinar Bulan.
Setelah berdiri sendiri Desa Sukananti dan Desa Sinar Bulan mengalami persilangan mengenai letak batas wilayah. Untuk menanggulangi hal tersebut diadakanlah musyawarah. Dalam sidang musyawarah Bapak Ahmad Asim mengusulkan untuk membagi lagi Desa Sukananti dan Desa Sinar Bulan menjadi satu desa, masyarakat desa pun setuju dengan usulan Bapak Ahmad Asim itu. Pada hari selasa tanggal 15 November 2005 diadakanlah musyawarah pembentukan desa untuk menentukan nama yang cocok bagi desa tersebut. Bapak Ahmad Asim mengusulkan lagi kepada masyarakat, nama yang tepat untuk desa pemekaran ini adalah Aur Gading. Nama Aur gading diambil dari pohon Aur (bambu) yang berwarna kuning gading yang terdapat di belakang desa ini. Masyarakat setuju dengan nama yang diusulkan oleh Bapak Ahmad Asim itu, dan terbentuklah desa Aur Gading.
Setelah Desa Aur Gading diresmikan, Kepala Desa dan perangkatnya dibentuk dan diangkatlah Bapak Asuriansah sebagai Kades Desa Aur Gading dengan Ketua BPD Tarjono. Walaupun desa ini sudah terpisah menjadi tiga Desa, tetapi masyarakatnya masih saling membantu dalam segi apapun, hidup rukun dan damai.

 Nara Sumber: Bapak Ahmad Asim yang lebih dikenal Buyung Belalang.








             Sekian dulu cerita singkat tentang asal usul nama desa-desa di Padang Guci, mudah-mudahan bermanfaat bagi semua khususnya para generasi muda, agar tidak melupakan sejarah daerahnya, salah dan kurang kami mohon maaf,,,

     Dengan pendokumentasian marilah kita lestarikan sejarah terbentuknya desa-desa di Padang Guci sebagai bentuk warisan sejarah bagi generasi muda. Kami menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, demi kesempurnaan penelitian ini.Atas kerjasama dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih.
                







         Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama para anak didik saya:


Adela Reta Jayanti
Desy Adeza Putri
Willyanda Nugraha D
Afrisha Wisna
Ravia Fransischa
Dena Sri Utami
Yeti Sri Fahayu
Antonio Robbuka
Fatansyah AK
Reva Vayanti
Distri Wahyuni
Dery Miriansyah
Ipin Sarihin
Regar Adiswan
Dwi Rahayu Fatma Reka 
Meiko Muslamat
              Semoga nanti kita dapat mewujudkan cita-cita dan impian kita dalam mebuat buku sejarah tentang desa kita





           oya buat teman-teman yang lagi jauh sama desanya atau lagi di rantau/dinegeri orang silahkan dengerin lagu Ghindu Dirantau ini,,mudah2an dapat menghibur para pendengarnya



video



"SAMPAI JUMPA"






















11 komentar:

  1. mudah2an bisa jadi buku sejarah lokal

    BalasHapus
  2. Artikel yang bermanfaat sob untuk membuat anak cucu tahu sejarah, biar tidak di claim oleh bangsa lain...
    happy blogging....

    BalasHapus
  3. hal yang baru,dan patut untuk di apreseasi,,,lanjutkan,,,semoga sukses.

    BalasHapus
  4. Sukses Selalu, Izin Share ya...

    BalasHapus
  5. palangan sejarah seluruh dsun mang pacak keruan gale sejarahnye....

    BalasHapus
  6. Noprianto: silahkan..

    wahyu: au,,,,makasih tas sarannye..

    BalasHapus
  7. AUUU.. ALANGKAH PADEKNYA DING.. LUKMANE..KALU INFO INIM KITE SEMINARKAN SEBAGAI AKAR SEJARAH KOLEKTIF RANAH BESEMAH TANAH SETAPAK MIRING,, SAN FO'TSI..

    BalasHapus
  8. maaf baru balas,,,,kang Aryalingga,,,, ois mantap rencane kakang tu,,,tapi me masalah itu klu lemaklah kakang ye ngaturnye,,,,ading nurut saje,,,ye penting ka begune,,,hehehe amin,,,,

    BalasHapus
  9. mantaps..lanjutkan..nah ade nining kami sak disimpang tige tu..tinggal itulah yg tue ye masih idup..moga nek muksin diberi keberkahan hidup..dan penulis memang oke dah..kami yg besak dirantau ucapkan sukses terus..dan lov pd guci...

    BalasHapus